Saturday, October 19, 2013

사고쳤어요

Dengan ditemani hangatnya malam ini, aku persembahkan surat ini untukmu

Hai, 

Sebelumnya, aku minta maaf kalau aku lancang. Tapi, sungguh. Mengaggumimu dengan cara seperti ini benar benar diluar kehendak isi kepalaku. Kalau tidak percaya, bongkar saja isi kepalaku. Disana, kau akan temukan jawaban 'tidak' di setiap pertanyaan 'apakah aku menyukaimu'. Aku hanya tidak bisa lagi melawan isi hati ku. Ia selalu memaksaku untuk mengakui dan melakukan semua hal diluar kendaliku. Bukannya aku tidak pernah melawan, aku selalu berusaha melawan suruhan suruhan bodohnya. Hanya saja... Ck. Lagi lagi kau tidak percaya, ya? Baiklah, kau bisa tanyakan pada dinginnya malam ketika aku mengadukan betapa kurang ajarnya hati-ku karena tidak menuruti apa kata isi kepala-ku. Sebut aku bodoh, tapi memang begitu adanya. Walaupun ia tidak menjawab ketika kutanya hingga berbusa, tapi setelah itu, sedikit demi sedikit keraguanku untuk memilih antara isi kepala dan hati-kurang-ajar mulai berkurang. Dan aku pun menetapkan pilihan.

Ayo kita masuk ke inti ceritanya.      

Jadi, begitulah awalnya. Sungguh, aku benar benar tidak pernah berpikir untuk merencanakan untuk, mm seperti ini. Kemudian, soal kelancanganku. Tolong maafkan ya, kalau aku suka sedikit menguntitmu. Hanya sedikit. Maksudku, penguntitan ini hanya berskala kecil, jadi aku harap kau tidak marah banyak banyak. 
Ngg, setelah aku memutuskan untuk memerangi gengsi, keberanian, dan ketabahanku, akhirnya aku berhasil menambahkanmu di daftar pertemanan jejaring sosial facebook-ku. Alhasil, setiap malam aku rajin dan tanpa lelah mengunjungi timeline facebookmu. Cek foto yang selalu itu itu saja, status yang masih sama, selalu tidak ada perubahan berarti. Selalu begitu setiap malam sambil terus berharap tidak terlalu tinggi supaya dengan keajaiban kau bisa mengirimiku pesan, apapun itu.

Ohiya. Ngomong ngomong, Kau baru saja mengganti model rambutmu, ya? Terlihat bagus untukmu. Kau terlihat lebih manly dengan gaya rambut seperti itu, ditambah lagi dengan muka super jutekmu yang menyebalkan itu. Huh. Bagaimana bisa aku diam diam memperhatikan orang seperti mu? I must've lost my mind. 


Kita pernah beberapa kali berpapasan dan hampir setengah kalinya kau selalu langsung memalingkan muka dengan raut wajah kebencian. Bukannya aku berharap untuk ditatap lama lama oleh orang seperti mu, tapi, haruskah sejutek itu? Seharusnya kau lebih memikirkan perasaanku. Bisa saja kan kalau memang kau tidak suka melihat wajahku, kau bisa melihat objek lain di sebelahku, atau pura pura mengucek mata, atau pura pura bersin, atau apalah. Jadi, itu bisa menjadi alasan untuk tidak melihat ke arahku. Tapi........tunggu. Siapa aku sehingga kau harus memikirkan perasaanku ketika memutuskan untuk memalingkan muka atau tidak ketika berpapasan denganku? Siapa aku sehingga kau harus peduli dengan semua ini? Haaaaaaaaaaa.benar benar. Sepertinya aku sudah gila. 




Yaaah. Gak kerasa ya udah bulan Oktober. Sebentar lagi Desember. Setelah Desember, pergantian tahun. Setelah masuk tahun baru, masuk tahun ajaran baru, lalu .....*isisendiri* Mungkin hanya aku yang bakal merasa kehilangan disini. Karena pastinya rasa kehilangan ini gak bakal berbalas. Jangankan rasa kehilangan, rasa yang 'itu' aja gak berbalas. *ketawamiris* *jedukinpalaketembok*

Dan lagi, aku kembali berpikir. Apa yang kutulis disini, semua yang aku rasakan sekarang, dan sebagai sebagainya adalah semua sia sia.gak berguna. Maksudku,will I ever cross your mind? haha. Jangankan terlintas di benakmu, will you ever notice me aja jawabannya masih gak bakal. *hening* *heningselamanya* 

Ah. Yasudahlah. Sepertinya surat konyol ini sudah terlalu kepanjangan. Selamat Malam!

Monday, September 16, 2013

Secret Admiring


Selamat malam, logaritma. Maaf malam ini aku lagi lagi gabisa nemenin kamu lama lama. Aku rasa, hubungan kita dari awal emang udah gak baik. Dan juga, kamu gapernah ada inisiatif buat menjadi sesuatu yang lebih ramah lingkungan. Kamu itu keras, susah ditebak, dan terlalu rumit buat dimengerti. Maaf, tapi mungkin kita gak sejalan.

Oiya.Berkaitan dengan penggantian theme blog, yang awalnya biasa2 aja, standard, dan kemudian berubah tampilan menjadi alay begini, aku bisa jelasin.
Mungkin beberapa dari kalian, atau mungkin 0 dari kalian menganggap aku ganti keseluruhan tampilan blog karena aku lebih mementingkan apa yang terlihat daripada apa yang terkandung.

Which is totally true.

Karena aku sadar isi yang terkandung di dalam blog ini benar benar absurd, dan mungkin tidak ada hikmah yang dapat diambil dan kemudian dapat mengubah dunia, ataupun menyentuh sisi kemanusian kalian. Jadi, dengan penuh kebijakan dan pemikiran yang terorganisasirasi, aku pun menggantinya dengan tujuan agar tidak ada konspirasi hati antar umat manusia yang dapat mengganggu labil ekonomi negara kita. Jeeeek.

The point is, I changed the way its look just to attract people to read this whole useless tulisan.

Actually, besok aku bakal ulangan matematika. Baru ulangan pertama di bulan kedua ku di SMA. Bukan karena ini pertama kalinya aku ulangan yang membuatku cemas, hanya saja materi yang diulangkan mencakup logaritma dengan lo-ga-rit-ma. Whis means, holly shit i know nothing about that like really.

Seperti yang kukatakan tadi, aku mempunyai hubungan yang tidak bisa dikatakan baik dengannya. Kamu tau? Like, it hates me, and I hate it even more. Dari awal Pak Fadhil nerangin materi logaritma, aku udah nyium hawa permusuhan yang kental. Like, dude, we really can't be friend. Dan, sampai detik ini aku masih akan bengong jika disodori satu soal logaritma bentuk apa saja.
Aku tau seharusnya aku belajar dan mencoba memperbaiki hubungan kami dan memulainya dari awal. Dan semua itu harus berawal dari niat, karena tanpa niat, semuanya gak bakal berjalan dengan baik. Nah, unfortunately, niat itulah yang sampai sekarang belum kunjung datang menghampiri.

Enough with this thing. Mumpung aku ingat, aku pingin cerita tentang seseorang yang bernama anggap saja spidol.
Nggggg..................................
Spidol adalah seseorang yang menjadi alasan satu bulan belakangan aku mati matian menahan ngantuk di bis saat pulang sekolah setiap harinya. Hanya buat mandangin dia lewat dalam durasi waktu kurang dari 30 detik. Tapi kamu tau? That's way too enough for me. Hanya dengan 30 detik penuh pengharapan itu, aku membawa pulang segenap hati dan jiwa ku dengan penuh suka cita. And everything seems perfect.

Saat itu, aku hanya mengetahui sedikit tentang spidol. Hanya beberapa hal umum seperti nama, kelas, alamat dan udah itu aja. Aku belum tau makanan favoritnya, nama hamsternya, dia sukanya pake baju warna apa, dia itu wota alay apa bukan, dia sukanya musik musik rock rock gitu apa gimana, lebih lebih aku belum tau dia jomblo apa enggak. Sebagai manusia yang selalu berpikiran positif, aku berasumsi, bahwa dia pasti masih jomblo, karena aku jarang liat dia pulang bareng cewek. Oke, garing. Walaupun itu gak mendukung banget kemungkinan dia sedang menjomblo, tapi lagi lagi karena aku manusia yang baik dan tidak berprasangka buruk, aku memutuskan bahwa dia ganteng dan jomblo. End of.

Kamu tau? Jadi secret admirer itu gak mudah. Secret admiring itu punya siklus sendiri. Hari ini di bawah, besok di atas, besoknya lagi di bawah. Nggak, bukan yang itu maksudnya. Misalnya, bisa jadi hari ini, seneng gara gara ketemu ga sengaja di kantin. Walaupun doi gak ngeliat ke arah kita, tapi tetep aja seneng. Yang penting ketemu. Atau nggak, besoknya, pas pulang sekolah gak diduga duga doi pulang bareng cewek cantik dengan rambut sebahu sambil ketawa ketawa gajelas. Kita cuman bisa ngeliat dari kaca jendela bis sambil megap megap karena gak terima. Terus besoknya ga sengaja ketemu lagi pas mau ke toilet, seneng banget sampe sampe lupa mau ngapain ke toilet. Besoknya lagi ngeliat doi gandengan sama cewek dengan rambut semata kaki sambil mesra. Iya, ngelewatin fase fase senang-sedih yang kadang gak jelas siklusnya itu malah bikin secret admirer jadi tambah tabah dan lebih kuat untuk menghadapi kemungkinan kemungkinan besok bakal ketemu apa enggak, ya. Atau, besok bakal ketemu dalam keadaan gimana ya. Dan sebagai sebagainya.

Yaaaaaa. Dalam hal ini aku memang sedang mengaggumi spidol secara rahasia. Dan akan tetap menjadi rahasia gatau sampe kapan. Udah deh.

Selamat Malam.

Thursday, August 1, 2013

Maaf Lahir Batin, eaaaa

Halo. Puasanya masih jalan, kan? Terawih nya masih tetep kan? Tadarrus? Dzikiran? Yaaa semoga semua ibadah kita di bulan puasa tahun ini bisa dijalankan dengan lancar dan diterima oleh Allah, ya. Amin ..

Oiya. Aku pribadi pingin ngucapin mohon maaf lahir dan batin buat semua pengunjung blog yang aku tau cuman itu itu aja. Makasih udah meluangkan waktu buat ngebaca posting blog ku yang gak seberapa ini. Nabila minta maaf kalo dalam penulisan blog ini ada kata kata yang mungkin kurang enak dibaca, terlalu kasar, atau apapun yang gak enak enak. Maaf ea qaqaaaa. Atau mungkin ada kalimat kalimat yang menyindir pembaca, yang emang gak sengaja menyindir, dan atau emang bertujuan menyindir, sungguh Nabila tidak luput dari kesalahan dan dosa ^^

Ohhh, mungkin ada juga yang udah lama nungguin aku ngepost, maaf ya membuat kamu menunggu lama. (Emang ada?) Aku bukannya sok sibuk, tapi emang sibuk. Nata ulang hati, pikiran dan jiwa raga untuk kembali siap cerita cerita unyu di blog. Gak cuman itu, beberapa minggu ke belakang aku juga disibukkan sama urusan test penjurusan lah, persiapan mos, sampe persiapan masuk sekolah. Jadi, aku tau emang gak ada yang nanya dan gak ada yang peduli, tapi kan siapa tauu.. (E serius, emang ada yang nungguin kamu ngepost?) Kan siapatau ada yang diam diam suka ngestalk blog ku, bukain sampe post post tahun lalu. Siapa tauu.. Atau mungkin ada yang awalnya cuman blogwalking, terus sialnya terdampar di blogku dan terus kecantol.. (Serius yang satu ini enggak banget.) Ya kan siapa tau..

Oke? Intinya kembali lagi Nabila ingin mengucapkan maaaffff uang tuluuuuuus banget dari hati yang lembut ini, qaqaaa. Semoga kita bisa ketemu lagi di puasa tahun depan, ya! :)

Saturday, June 22, 2013

4 a.m

Hai. Malam ini aku lagi lagi sedih. Haha. Sedih aja terrus, Nab. Mungkin bukan cuman malam ini. Malam malam kemaren juga sedih. Tapi mungkin ini yang terburuk. Rasanya kayak ditampar, habis tu ditonjok, terus dicakar cakar, keluar darah, darahnya ditetesin pake jeruk nipis. Dan terakhir, didorong dari lantai tingkat sekian kayak di tv tv.

Aku sayang coro and friends, banget. Aku juga sayang Ayah sama Ibu, tanpa jeda. Aku juga sayang sama kamu.

Aku pernah ngomong sama diri sendiri, 'kamu tau kan sakitnya cinta. Eakk. Bro, hidup ini keras. Kamu berani jatuh cinta, kamu berani ngerasain sakitnya. Jadi, gausah jatuh cinta lagi. Mending terusin sama yang lama. Maksudnya, ngestuck gituu.. Kamu gakbakal ngerasain rasa sakit yang baru. Yekan? Udah, stuck aja.."

Mungkin aku memang bukan penganut ajaran 'life must goes on' yang taat. Buktinya aku masih suka ngingetin diri sendiri supaya jangan lupa ngestalk timeline mantan setiap sekian jam sekali. Kali kali dia udah punya gebetan baru yang bisa ngubah dia buat rajin sholat. Atau kali dia udah punya cewek baru yang bisa ngebuat dia senyum senyum sendiri kalo disms. Aku kan gakmau dibilang kudet, kata anak anak gaul jaman sekarang.

Tapi, ngestuck emang gak selamanya indah. Emang enak ya, ngorek ngorek luka yang sama setiap harinya? Awalnya emang biasa aja. Rasanya udah kebiasa. Tapi lama lama malah jadi infeksi. Terus jadi nanah. Terus, terus gaktau terusannya. Setauku kalo udah jadi nanah gitu susah banget disembuhinnya. Musti diobatin rutin. Musti nahan buat gak digaruk lagi. Padahal kan gatel, udah kebiasaan sih ngubek ngubek kenangan. Waktu disuruh berhenti, susah. Megap megap. Obatnya pun susah dicari. Sangking udah parah banget lukanya. .
Iya, ceritanya itu aku.

Jadi sekarang aku harus apa? Bangkit? Ayo, yok. Mendaki mantan, lewati kenangan, bersama coro kita move on! Ah. Garing, nab. Iya, aku emang gak pinter ngelawak. Apalagi ngelepasin kamu. .

Seorang Dini semalaman ini ngajakin aku ngobrol keras. Topiknya berat banget. Yah, gak jauh jauh lah dari ngomongin orang. Dari situ aku jadi sadar cinta nya Dini ke aku setinggi Himalaya. Dini berkata, "kita memberikan celah ke jalan yang kamu takut untuk lewati karena takut melepas,nabila. que sera sera"

Jelas dari kalimat itu dia emang pingin bantuin aku buat ngelewatin jalan setan ini. Otw melepaskan maksudnya. Jelas, kan maksudnya baik. Aku benar benar menghargai itikad baiknya. Hanya mungkin aku hanya tidak suka cara nya melakukannya. . Mungkin.

Mungkin juga aku hanya takut soal apa yang bakal terjadi setelah ini. Aku hanya terlalu takut ngelawan perubahan yang mungkin bakal muncul. Aku belum siap, aku belum pinter seni bela diri buat ngadapin kamu. Maaf, aku gasuka perubahan.

Ah, udah setengah 4 subuh bayangin. Aku galau berkepanjangan gak bosen apaya? Udah deh. Matahari nya bentar lagi mau terbit. Hari Nabila yang baru juga pingin terbit. Hari baru kalian juga harus segera terbit. Yang lama sudah terlalu usang buat dijalanin. Biarin jadi kenangan, terus diiket rapih masukin dalam memori, dan jadiin pelajaran buat hari hari kalian selanjutnya. Aku juga pingin senyum tanpa beban, tanpa beban yang terus terusan minta dilepasin. Maaf selama ini aku terlalu kenceng ngiket kamu di sini. *ngelushati*Aku longgarin deh, janji. Jadinya kamu bisa pergi tanpa terus terusan aku ganggu. Hihi. X)

Monday, June 3, 2013

Stay



This is all for you
How you make the sky turn blue 

On a cloudy day when you're not here, 
I wish to feel your presence near,
Never had I gone one day missing,
The boy that I wanna be kissing,
and it's true,

That I never think I'll feel like this towards you but the damage is deep, I wanna be yours to keep,

Never ever go away, 
Cause I wanna be here to stay

Just So That You Know




"I miss you, when something really good happens, you're the first one I want to share it with. Because I miss you when something is troubling me, you're the only one who would've understand.
 Because I miss you, when I laugh and cry, you're the only one who could make me laugh harder and make my tears disappear.
I don't know where we went and why we grew apart, but you should know, I miss you."

“The saddest thing in the world, is loving someone who used to love you.”

Afternun geng! Pak Cik, Mak Cik, Cik Gu, dan Coroers yang selalu baik sama aku. Tanpa kalian, aku bukanlah jomblo yang kuat seperti sekarang, terimakasih. 

Geng, alhamdulillah setelah digantungin selama sebulan, akhirnya aku jadian juga. Eh salah. Maksudnya, aku lulus, geng. Alhamdulillah nilaiku juga lumayan. Alhamdulillah orangtua gak berkicau masalah nilai melainkan merasa bersyukur telah mempunyai anak yang cantik juga baik hati yang sudah lulus SMP dengan nilai yang tidak buruk. Alhamdulillah juga aku sudah bisa mengikhlaskan Noiso untuk orang lain. Eh salah. Tapi bener. Yah seterah aja yang penting Noiso senang. 

Aku tau bagi kalian yang gak tau Noiso bakal garuk garuk lantai karena kepo gak ketulungan pingin tau siapa yang Nabila lagi suka. Tapi, Noiso adalah Noiso. Forever Noiso. Always Noiso. . . And no, I'm not gonna tell you the real Noiso. . . Aaaahhh. 
Baiklah, karena aku tau rasanya kepo gimana, dan gak enak, jadi aku bakal ngasih tau, sedikit, tentang Noiso. 

Noiso adalah seseorang yang mampu membuatku bertahan untuk tetap percaya 'cinta bertepuk sebelah tangan itu gak kesian kesian banget' sampai sejauh ini. Walaupun sampai milidetik ini aku nggaktau apa alasan yang membuat aku cukup mampu untuk bertahan. Dan itu juga yang membuatku sadar bahwa aku sungguh mulia karena selalu memberi tanpa pamrih. Dan Noiso, kamu sungguh buruk rupaa!!

Noiso adalah seseorang yang secara tidak langsung mengajarkanku untuk sadar, cinta itu gak harus melulu tentang balasan. Tapi selalu tentang ikhlas dan mengesampingkan balasan.

Dan Noiso adalah orang pertama yang membuatku mampu menjadikannya motivasi dalam setiap hal hal yang kubenci. Seperti, masuk sekolah misalnya. Daaaaaan, udah segitu aja.  

Sebenernya masih banyak spoiler tentang Noiso yang aku masih simpan di draft. Tapiii, karena aku unyu dan mencintai Noiso dengan segala keburuk rupaan nya, aku belum bersedia untuk membaginya kepada kalian. Oke sekian tentang Noiso. 

Sekarang aku sedang disibukkan dengan pikiran pikiran tentang akan jadi seperti apa aku nanti di SMA. Tentang penjurusan ipa dan ips. Tentang bagaimana aku harus benar benar belajar dengan sangat keras demi mengabulkan harapan besar Ayah untukku. Iya, Ayah benar benar menginginkan putrinya untuk bisa masuk UGM nantinya, just like him. Dan serius, mengingat betapa tidak terhitung banyak kali nya aku sudah mengecewakan beliau, kali ini aku harus benar benar benar benar serius. Dan lagi, aku berpikir tentang noiso yang sudah mengubah hidupku dengan sangat alay, jelas sekali aku akan merindukannya. 

Udahlah segitu aja. Kalo kebanyakan aku bisa pusing karena keberatan kenangan. Udah ya. 

Selamat siang, dan tetap semangat!!! ^^


Wednesday, April 24, 2013

(tidak) Kembali


Senja kali ini ditemani oleh hujan kiriman langit. Dinginnya membuatku enggan melepas diri dari dekapan selimut coklat tua-ku. Sesekali aku menengok ke arah jendela yang sengaja tidak ku tutup rapat. Membiarkan aroma dan hawa nya membekapku erat. 

Aku bangkit dari posisiku dan duduk bersandar pada sandaran kasur. Kemudian meraih laptop dan mulai larut dalam ketikan ketikan yang kemudian aku sadari, masih tentangmu. . 
Cepat ku hapus setiap paragraf berisikan kata rindu. Demi tuhan, semuanya di luar kesadaranku. . 

Seharusnya tidak boleh ada lagi tulisan tentangmu. Seharusnya namamu sudah mampu ku hapus dengan waktu. Seharusnya, kenangan tidak semampu ini untuk kembali menarikku. Seharusnya, aku sudah cukup kuat untuk menarik diri, keluar dari gaya gravitasi-mu. Seharusnya. . . 

Kemudian, kepalaku kembali lagi liar memikirkan berbagai hal absurd yang benar benar tidak ingin kuingat lagi. Aku memilih menarik diri, dan mengambil alih dengan memperbudak perasaanku. Tidak kali ini. Aku tidak akan membiarkan perasaanku menang dan memperbudakku kembali. Aku sudah cukup kuat untuk tidak mengikuti apa yang ia maui. 

Cinta? Cih. Aku tidak kenal cinta. Tidak sekarang. Tidak lain kali. Tidak akan lagi.  

Thursday, April 4, 2013

Secangkir Rindu



Aku.
Kamu.
Tak lagi kita.

Sore yang cerah. Langit yang sama. Kita yang berbeda.

Aku mengemasi kenangan kenangan kita dengan rapi lalu kukikat dengan pita merah muda ke dalam sebuah kotak. Kemudian kotak itu kujejalkan di sudut kosong dalam ruang hatiku yang koyak.

Setelah selesai, aku mencoba menikmati transformasi senja dari balkon kamarku. Sambil membersihkan sampah sisa air mata yang masih menggantung di pelupuk mata. Buat apa menangis? Bukankah ini yang terbaik? Kalau Tuhan ingin kita bersama, toh nanti akan balik lagi.. Aku menggumam membesarkan hati. Sama sekali tidak membantu menghilangkan rasa sakit yang meraja.

Aku kembali menengadah menatap langit. Jingga nya menyihirku.

Seharusnya kamu ada di sini. Dengan jemari kita bertaut, bersama memandang magisnya semesta.

Seharusnya kamu di sini. Menawarkan pundakmu yang teduh untuk sekedar aku sandari.

Seharusnya kamu masih di sini. . Masih membiarkan hatimu aku singgahi.

Tapi sialnya, kenyataan menjadi Raja di sini. Aku hanya budak yang bisu dan tuli.


Ini, aku kirimkan secangkir rindu lewat pos mimpi. Semoga tidak retak dan masih utuh saat kau bagi. 

Halo . . .

Halo. Ini aku. Masih ingat?

Halo. Aku kembali lagi dengan semangat dan senyum yang sama. Tapi dengan mimpi yang aku gantungkan lebih tinggi dari biasa.

Halo. Aku masih sama. Seorang upik abu yang menympan rasa untuk pangeran bertopeng dari negeri Sakura; rapat rapat.

Halo. Aku belum berubah. Masih suka mengepul asa, memulung cerita, dan merangkai kata.

Halo. Akulah gadis riang pencandumu yang terus berharap waktu takkan habis berakhir kala bersamamu.

Halo. Akulah yang selalu setia mengirim pesan selamat pagi kepada matahari untuk dia bawa untukmu.

Halo. Akulah teman setia rembulan yang selalu menjadi pendengar setiap cerita tentangmu.

Halo. Tidakkah kau sadar ada aku memujamu? tut tut tut...



Saturday, February 9, 2013


Hujan deras hari ini sepertinya tidak cukup kuat untuk melunturkan bentangan jarak darimu. Petir bersautan juga sepertinya tidak cukup hebat untuk menyampaikan betapa aku rindu. Aku hanya penasaran, ‘apa kabar-mu?’
2 malam tanpa ucapan selamat malam jelas bukan akhir dari segalanya. Aku hanya merasa ada yang kurang saat malam menyapa. Kemudian tersadar, mungkin hanya aku yang merasa kehilangan. 


Wednesday, February 6, 2013

Sans Titre


Aku tahu jarak bukan apa
Aku jelas mengerti semua nyata
Aku hanya berharap semua ada
Tapi, siapa yang tahu hati akan membawa kemana?
Ketika otak menolak untuk mencerna, ia dibutakan oleh pesona
Ketika semua dipatahkan oleh akal sehat dan logika
Melambung tinggi dengan angan-angan; memburamkan segala janji dan kata
Kala itu mungkin kau akan lupa
Siapa yang telah menunggumu begitu lama
Yang tak pernah absen merapal do’a
Yang selalu berharap dapat dipertemukan di persimpangan mimpi tanpa sengaja
Ia mohon jangan pernah lupa; kita pernah ada



Thursday, January 10, 2013

Kepada Langit ...

Langit, jika kau tak keberatan. Aku ingin memohon sesuatu. Tidak banyak.

Kumohon, beritahu dia betapa aku takut kehilangan senyumannya.

Sampaikan padanya betapa berarti senyumnya untuk-ku.

Kumohon katakan padanyanya, jangan pernah hilangkan senyummu. tetap taruh disitu. walau bukan untukku, meski bukan karenaku.





Terimakasih sebelumnya, Langit. Aku harap ia dengar.

Saturday, January 5, 2013

Mereka Bukan Langit




Sabtu, 7:09 PM 

Hai.
Apa kabar? Sudah lama aku ingin mengirim surat ini. Tapi, ah. Pasti ada saja yang membuatku urung dan buru buru menyimpannya kembali ke draft. Sudah saatnya ia keluar, ia mungkin sudah lelah menunggu untuk keluar, dan dibaca. Baiklah, ia mungkin juga tidak sabar untuk memberitahumu berbagai hal, jadi .. 

Ini semua berawal dari pertemuan pertama kita di depan perpustakaan kota siang itu. .

“ARA!” 
“Apa?” 
“Apa maksudmu dengan, “Apa?” ? Ha? Ini. Ck. Kamu sudah kehilangan akal sehatmu, he?” Alba meraba keningku dengan lebay. Mendramatisir keadaan, lagi lagi.  Cukup. 

“Apa yang salah dengan membuat surat seperti itu? Apa yang salah dengan memberitahu kepada orang itu apa yang sebenarnya aku rasakan? Kamu terlalu mendramatisir, Alba. Aku tidak kehilangan akal sehatku.”

Alba masih saja memandangiku dengan tatapan jijik yang, entah, seperti melihat seonggok daging busuk yang…. tak berstamina. ?

“Dengar, Ara. Pertama, kamu hanya seorang perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Kedua, demi tulang rusukku di luar sana, Ara! Ini semua bahkan bukan apa yang orang orang katakan sebagai “Love at first sight”, atau apalah itu.. “

“Kamu berkata seperti itu hanya karena kamu tidak pernah merasakan cinta pada pandangan pertama kan, Alba? Se..”

Alba memotong perkataanku yang setengah rampung, “Aku tidak suka diinterupsi, Ara. Aku belum menyelesaikan perkataanku..”

Aku hanya mengangkat alis dan menatapnya tajam. sial. bertaruh 50 ribu, beberapa menit lagi mungkin biji matanya itu akan keluar. Tidakkah ia sadar betapa buruk wajahnya saat memelototiku seperti ini.. Hahahaha. Oh, andai saja Dio ada disini dan melihatnya ..

“ARA!” 
“Apa lagi?!” 
“Bisakah kamu sebentar saja mendengarkanku, tolong hargai aku bicara. “ Alba merebut ponsel dari tanganku, “Apa-apaan?” Aku berusaha merebutnya kembali, tetapi, nihil, tingginya yang hampir 165 itu sungguh menjengkelkan jika dibandingkan denganku yang hanya 150, mungkin tidak sampai. Ah entahlah. Seandainya saja ia bukan sahabatku sejak aku masih mengemut berbagai benda di hadapanku, mungkin ia sudah musnah sejak beberapa menit tadi.

“Dengar, dan jangan potong ucapanku. .” Alba menyilangkan kakinya, dan mengibas rambutnya. Aku sudah berkali kali menyarankannya untuk ikut casting sinetron sebagai tokoh antagonisnya, tapi berkali kali juga ia menolak. Ia berkata bahwa, aku sadar aku memiliki kemampuan acting yang luar biasa natural. Tapi aku tidak akan mencari mereka. Mereka yang akan mencariku. . Demi Dora The Explorer dan Boots si Kera Ajaib itu, aku bahkan tidak pernah bertemu orang yang senarsis dia. Ya. Alba memang ajaib.

“Kedua, Ara. . Ini bukan soal “Apa yang salah dengan memberitahu kepada orang itu apa yang sebenarnya kamu rasakan”. Tapi ini adalah, kamu. “ Alba menekankan intonasi nya dalam kata kamu. dalam. “Kamu, tidak sedang jatuh cinta, atau apapun. Oke, aku akui ia memang good looking dan sebagainya. Tapi, Araa. You’re both strangers. . Dan it won’t work. I mean, for god’ sake, ia hanya menahan pintu untukmu, membiarkanmu masuk ke perpustakaan terlebih dahulu. Itu biasa. Itu hanya... hal yang biasa, Ara, please. Kamu terlalu lebay jika sampai mengiriminya surat seperti ..” Alba melirik kertas surat yang lecek di hadapannya dengan hina. Ingin rasanya kujambak rambut panjang indahnya itu… Arrrgghhh.

“Apakah kamu se desperate ini ditinggal oleh nya, Ra?”

Sial. Pertanyaan terakhir Alba sukses menohokku dalam dalam. Benar benar berhasil membuatku skakmat, dan tak tahu arah jalan pulang. Aku diam. Alba juga diam. Kami diam. Semua diam. 

Aku berdeham untuk sedikit memecah keheningan. 

“Well, Ba. Kamu benar. Aku memang tidak sedang jatuh cinta, atau apa. Maksudku, bahkan, orang itu tidak se-good looking itu untuk aku kagumi.” Berdeham lagi. “Ya, mungkin benar, i still can’t get over him. Cowok brengsek.” Aku menutup perkataanku dengan makian yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar benar ingin aku ucapkan. Itu hanya, refleks. ? 

Alba mendekat, dan merangkul pundakku. “Ra, percaya. Time is a healer, kok.” Alba mengerling padaku, yang kubalas dengan tonjokkan di lengannya. “Homo!” “Hahahaha. Aku punya pacar kok, Ra. Yaudah ah. Aku udah dijemput tuh. Duluan, Ra. Jangan pulang kesorean ..” Alba bangkit dan membersihkan roknya dari debu debu, dan berlari menuju BMW seri terbaru yang telah menunggunya di depan gerbang. Alba masih sempat melambai kepadaku. Aku hanya membalasnya singkat, kemudian terpaku. 

Aku menatap  langit. Langit tidak pernah berubah. Selalu biru, walau kadang ia berubah hitam, jika mendung. Tapi pada akhirnya ia akan biru lagi. Kembali cerah. Tidak berubah. Andai saja itu kamu. .
Argh. Sinetron. Aku mengacak ngacak rambutku, untuk sekedar membuatku kembali ke alam sadar, dan face the reality. 

Aku tarik nafas dalam dalam, dan enggan menghembuskannya kembali. Biar saja aku sampai kapan begini terus. Takkan ada yang peduli. Biar saja aku mati konyol dengan muka menahan nafas seperti ikan julung julung jomblo. Hufft.

Aku kadang tak tahan dan tak pernah habis pikir dengan pikiran pikiran gila yang kubuat. Mati konyol menahan nafas dengan wajah serupa dengan ikan julung julung single? Aku pasti hanya ada satu di dunia ini. Hmpt.

Jujur saja, beberapa minggu kebelakang suasana hatiku memang sedang gelap gelapnya. Mellow. Sellow. Gaulnya sih, galau. Cih. Apapun itu, aku tidak suka merasakan ini. Semua. Bagiamana tidak? Aku sudah benar benar berusaha untuk tidak memikirkannya lagi, sudah mencoba meracuni pikiranku dengan berbagai hal hal buruk tentangnya. Sudah mencoba membencinya, cih. Berani beraninya ia memutuskan ku, padahal aku disini sudah menyanyanginya, terlalu dalam. Sial. Dan ia dengan gampangnya, …. Cowok memang brengsek. 

Hanya dengan duduk di depan lapangan basket seperti sekarang ini saja, dengan mudahnya menyeretku kembali ke masa lalu. Dengan tak berperikemanusian, ia lemparkan kembali aku ke tengah tengah masa itu. Sial. Masa masa bahagia, penuh canda, cih. Tak perlu sok puitis. Ini hanya seonggok lapangan basket. Tak ada kenangan. Tak ada artinya. Tak ada yang perlu diratapi. 

Aku bangkit dan membersihkan rokku seadanya. Kemudian berbalik dan mulai melangkah pelan menuju parkiran sepeda. Aku menendang nendangi kerikil yang menghalangi jalan ku. Entah di kerikil keberapa, saat aku menendanginya, batu kecil itu memantul kembali ke arahku. Bingung. Aku pun terdiam dan menghentikan langkah. Saat aku sadar terdapat sepatu lain di jarak beberapa meter dari sepatuku, aku segera mendongak. 

Sial. 

Aku tau kalian sudah bisa menebak arah jalan cerita ini, siapa yang sekarang berdiri tepat di depanku. Oke, breath normally. 

Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalananku ketika ia menahan lenganku dan berkata, "Ra, aku mau ngomong." 

Dasar. Cowok satu ini emang maniak sinetron. 

"Ngomong." Aku menyentakkan genggamannya dari lenganku.

Dasar. Aku juga tertular maniak sinetron-nya.

"Aku tau selama ini kamu masih sayang sama aku ..." Ada jeda dalam kata nya.

Idih. Pede banget. Aduh. Bolehkah aku berguling guling disini dan melaporkan kepada dunia betapa gede rasanya dia? Duh. 

"Aku juga masih sayang sama kamu..."

Aku diam. Ia diam. Ikan julung julung dalam diriku pun diam. Semua diam. 

"Apasih kamu. Udahlah. Aku bakal dimarahi kalau pulang kesorean."

Duh. Aku benar benar berbakat menjadi sutradara sinetron rupanya. 

"Bagaimana, kalau kita balikan?"

................................................................

Sesaat, udara disekitar ku menipis. Aku megap megap. Cahaya pun seperti hilang. Gelap. 

"ARAAAAA!!!!! BANGUN! SHOLAT MAGHRIB!!!"

Heee?? Aku megap megap. Bergelung gelung di kasur. Mengapa aku bisa ada di sini? Bukankah tadi... Aku mengecek bajuku; masih seragam tadi. sial. Jadi tadi sore aku pulang seperti biasa, dan langsung tertidur pulas, ah sial. Cuman mimpi ...

Well, lesson learned.

What past is past. Jangan pernah berharap apa yang udah berubah, bakal berubah jadi sama lagi. Mereka bukan langit, kan? Mungkin lebih baik, kamu berharap kamu bisa tegar jalanin semuanya. Time is a healer. Percaya. Mungkin gak sekarang. Nanti. Kapan kapan. Sabaar ... Tuhan tau apa yang terbaik untuk kamu. 

So, move forward, forget, and no regret ;-)

Salam super !!!