Thursday, April 4, 2013

Secangkir Rindu



Aku.
Kamu.
Tak lagi kita.

Sore yang cerah. Langit yang sama. Kita yang berbeda.

Aku mengemasi kenangan kenangan kita dengan rapi lalu kukikat dengan pita merah muda ke dalam sebuah kotak. Kemudian kotak itu kujejalkan di sudut kosong dalam ruang hatiku yang koyak.

Setelah selesai, aku mencoba menikmati transformasi senja dari balkon kamarku. Sambil membersihkan sampah sisa air mata yang masih menggantung di pelupuk mata. Buat apa menangis? Bukankah ini yang terbaik? Kalau Tuhan ingin kita bersama, toh nanti akan balik lagi.. Aku menggumam membesarkan hati. Sama sekali tidak membantu menghilangkan rasa sakit yang meraja.

Aku kembali menengadah menatap langit. Jingga nya menyihirku.

Seharusnya kamu ada di sini. Dengan jemari kita bertaut, bersama memandang magisnya semesta.

Seharusnya kamu di sini. Menawarkan pundakmu yang teduh untuk sekedar aku sandari.

Seharusnya kamu masih di sini. . Masih membiarkan hatimu aku singgahi.

Tapi sialnya, kenyataan menjadi Raja di sini. Aku hanya budak yang bisu dan tuli.


Ini, aku kirimkan secangkir rindu lewat pos mimpi. Semoga tidak retak dan masih utuh saat kau bagi. 

Halo . . .

Halo. Ini aku. Masih ingat?

Halo. Aku kembali lagi dengan semangat dan senyum yang sama. Tapi dengan mimpi yang aku gantungkan lebih tinggi dari biasa.

Halo. Aku masih sama. Seorang upik abu yang menympan rasa untuk pangeran bertopeng dari negeri Sakura; rapat rapat.

Halo. Aku belum berubah. Masih suka mengepul asa, memulung cerita, dan merangkai kata.

Halo. Akulah gadis riang pencandumu yang terus berharap waktu takkan habis berakhir kala bersamamu.

Halo. Akulah yang selalu setia mengirim pesan selamat pagi kepada matahari untuk dia bawa untukmu.

Halo. Akulah teman setia rembulan yang selalu menjadi pendengar setiap cerita tentangmu.

Halo. Tidakkah kau sadar ada aku memujamu? tut tut tut...