Langit, jika kau tak keberatan. Aku ingin memohon sesuatu. Tidak banyak.
Kumohon, beritahu dia betapa aku takut kehilangan senyumannya.
Sampaikan padanya betapa berarti senyumnya untuk-ku.
Kumohon katakan padanyanya, jangan pernah hilangkan senyummu. tetap taruh disitu. walau bukan untukku, meski bukan karenaku.
Terimakasih sebelumnya, Langit. Aku harap ia dengar.
Thursday, January 10, 2013
Saturday, January 5, 2013
Mereka Bukan Langit
Sabtu, 7:09 PM
Hai.
Apa kabar? Sudah lama aku ingin mengirim surat ini. Tapi, ah. Pasti ada saja yang membuatku urung dan buru buru menyimpannya kembali ke draft. Sudah saatnya ia keluar, ia mungkin sudah lelah menunggu untuk keluar, dan dibaca. Baiklah, ia mungkin juga tidak sabar untuk memberitahumu berbagai hal, jadi ..
Ini semua berawal dari pertemuan pertama kita di depan perpustakaan kota siang itu. .
“ARA!”
“Apa?”
“Apa maksudmu dengan, “Apa?” ? Ha? Ini. Ck. Kamu sudah kehilangan akal sehatmu, he?” Alba meraba keningku dengan lebay. Mendramatisir keadaan, lagi lagi. Cukup.
“Apa yang salah dengan membuat surat seperti itu? Apa yang salah dengan memberitahu kepada orang itu apa yang sebenarnya aku rasakan? Kamu terlalu mendramatisir, Alba. Aku tidak kehilangan akal sehatku.”
Alba masih saja memandangiku dengan tatapan jijik yang, entah, seperti melihat seonggok daging busuk yang…. tak berstamina. ?
“Dengar, Ara. Pertama, kamu hanya seorang perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Kedua, demi tulang rusukku di luar sana, Ara! Ini semua bahkan bukan apa yang orang orang katakan sebagai “Love at first sight”, atau apalah itu.. “
“Kamu berkata seperti itu hanya karena kamu tidak pernah merasakan cinta pada pandangan pertama kan, Alba? Se..”
Alba memotong perkataanku yang setengah rampung, “Aku tidak suka diinterupsi, Ara. Aku belum menyelesaikan perkataanku..”
Aku hanya mengangkat alis dan menatapnya tajam. sial. bertaruh 50 ribu, beberapa menit lagi mungkin biji matanya itu akan keluar. Tidakkah ia sadar betapa buruk wajahnya saat memelototiku seperti ini.. Hahahaha. Oh, andai saja Dio ada disini dan melihatnya ..
“ARA!”
“Apa lagi?!”
“Bisakah kamu sebentar saja mendengarkanku, tolong hargai aku bicara. “ Alba merebut ponsel dari tanganku, “Apa-apaan?” Aku berusaha merebutnya kembali, tetapi, nihil, tingginya yang hampir 165 itu sungguh menjengkelkan jika dibandingkan denganku yang hanya 150, mungkin tidak sampai. Ah entahlah. Seandainya saja ia bukan sahabatku sejak aku masih mengemut berbagai benda di hadapanku, mungkin ia sudah musnah sejak beberapa menit tadi.
“Dengar, dan jangan potong ucapanku. .” Alba menyilangkan kakinya, dan mengibas rambutnya. Aku sudah berkali kali menyarankannya untuk ikut casting sinetron sebagai tokoh antagonisnya, tapi berkali kali juga ia menolak. Ia berkata bahwa, aku sadar aku memiliki kemampuan acting yang luar biasa natural. Tapi aku tidak akan mencari mereka. Mereka yang akan mencariku. . Demi Dora The Explorer dan Boots si Kera Ajaib itu, aku bahkan tidak pernah bertemu orang yang senarsis dia. Ya. Alba memang ajaib.
“Kedua, Ara. . Ini bukan soal “Apa yang salah dengan memberitahu kepada orang itu apa yang sebenarnya kamu rasakan”. Tapi ini adalah, kamu. “ Alba menekankan intonasi nya dalam kata kamu. dalam. “Kamu, tidak sedang jatuh cinta, atau apapun. Oke, aku akui ia memang good looking dan sebagainya. Tapi, Araa. You’re both strangers. . Dan it won’t work. I mean, for god’ sake, ia hanya menahan pintu untukmu, membiarkanmu masuk ke perpustakaan terlebih dahulu. Itu biasa. Itu hanya... hal yang biasa, Ara, please. Kamu terlalu lebay jika sampai mengiriminya surat seperti ..” Alba melirik kertas surat yang lecek di hadapannya dengan hina. Ingin rasanya kujambak rambut panjang indahnya itu… Arrrgghhh.
“Apakah kamu se desperate ini ditinggal oleh nya, Ra?”
Sial. Pertanyaan terakhir Alba sukses menohokku dalam dalam. Benar benar berhasil membuatku skakmat, dan tak tahu arah jalan pulang. Aku diam. Alba juga diam. Kami diam. Semua diam.
Aku berdeham untuk sedikit memecah keheningan.
“Well, Ba. Kamu benar. Aku memang tidak sedang jatuh cinta, atau apa. Maksudku, bahkan, orang itu tidak se-good looking itu untuk aku kagumi.” Berdeham lagi. “Ya, mungkin benar, i still can’t get over him. Cowok brengsek.” Aku menutup perkataanku dengan makian yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar benar ingin aku ucapkan. Itu hanya, refleks. ?
Alba mendekat, dan merangkul pundakku. “Ra, percaya. Time is a healer, kok.” Alba mengerling padaku, yang kubalas dengan tonjokkan di lengannya. “Homo!” “Hahahaha. Aku punya pacar kok, Ra. Yaudah ah. Aku udah dijemput tuh. Duluan, Ra. Jangan pulang kesorean ..” Alba bangkit dan membersihkan roknya dari debu debu, dan berlari menuju BMW seri terbaru yang telah menunggunya di depan gerbang. Alba masih sempat melambai kepadaku. Aku hanya membalasnya singkat, kemudian terpaku.
Aku menatap langit. Langit tidak pernah berubah. Selalu biru, walau kadang ia berubah hitam, jika mendung. Tapi pada akhirnya ia akan biru lagi. Kembali cerah. Tidak berubah. Andai saja itu kamu. .
Argh. Sinetron. Aku mengacak ngacak rambutku, untuk sekedar membuatku kembali ke alam sadar, dan face the reality.
Aku tarik nafas dalam dalam, dan enggan menghembuskannya kembali. Biar saja aku sampai kapan begini terus. Takkan ada yang peduli. Biar saja aku mati konyol dengan muka menahan nafas seperti ikan julung julung jomblo. Hufft.
Aku kadang tak tahan dan tak pernah habis pikir dengan pikiran pikiran gila yang kubuat. Mati konyol menahan nafas dengan wajah serupa dengan ikan julung julung single? Aku pasti hanya ada satu di dunia ini. Hmpt.
Jujur saja, beberapa minggu kebelakang suasana hatiku memang sedang gelap gelapnya. Mellow. Sellow. Gaulnya sih, galau. Cih. Apapun itu, aku tidak suka merasakan ini. Semua. Bagiamana tidak? Aku sudah benar benar berusaha untuk tidak memikirkannya lagi, sudah mencoba meracuni pikiranku dengan berbagai hal hal buruk tentangnya. Sudah mencoba membencinya, cih. Berani beraninya ia memutuskan ku, padahal aku disini sudah menyanyanginya, terlalu dalam. Sial. Dan ia dengan gampangnya, …. Cowok memang brengsek.
Hanya dengan duduk di depan lapangan basket seperti sekarang ini saja, dengan mudahnya menyeretku kembali ke masa lalu. Dengan tak berperikemanusian, ia lemparkan kembali aku ke tengah tengah masa itu. Sial. Masa masa bahagia, penuh canda, cih. Tak perlu sok puitis. Ini hanya seonggok lapangan basket. Tak ada kenangan. Tak ada artinya. Tak ada yang perlu diratapi.
Aku bangkit dan membersihkan rokku seadanya. Kemudian berbalik dan mulai melangkah pelan menuju parkiran sepeda. Aku menendang nendangi kerikil yang menghalangi jalan ku. Entah di kerikil keberapa, saat aku menendanginya, batu kecil itu memantul kembali ke arahku. Bingung. Aku pun terdiam dan menghentikan langkah. Saat aku sadar terdapat sepatu lain di jarak beberapa meter dari sepatuku, aku segera mendongak.
Sial.
Aku tau kalian sudah bisa menebak arah jalan cerita ini, siapa yang sekarang berdiri tepat di depanku. Oke, breath normally.
Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalananku ketika ia menahan lenganku dan berkata, "Ra, aku mau ngomong."
Dasar. Cowok satu ini emang maniak sinetron.
"Ngomong." Aku menyentakkan genggamannya dari lenganku.
Dasar. Aku juga tertular maniak sinetron-nya.
"Aku tau selama ini kamu masih sayang sama aku ..." Ada jeda dalam kata nya.
Idih. Pede banget. Aduh. Bolehkah aku berguling guling disini dan melaporkan kepada dunia betapa gede rasanya dia? Duh.
"Aku juga masih sayang sama kamu..."
Aku diam. Ia diam. Ikan julung julung dalam diriku pun diam. Semua diam.
"Apasih kamu. Udahlah. Aku bakal dimarahi kalau pulang kesorean."
Duh. Aku benar benar berbakat menjadi sutradara sinetron rupanya.
"Bagaimana, kalau kita balikan?"
................................................................
Sesaat, udara disekitar ku menipis. Aku megap megap. Cahaya pun seperti hilang. Gelap.
"ARAAAAA!!!!! BANGUN! SHOLAT MAGHRIB!!!"
Heee?? Aku megap megap. Bergelung gelung di kasur. Mengapa aku bisa ada di sini? Bukankah tadi... Aku mengecek bajuku; masih seragam tadi. sial. Jadi tadi sore aku pulang seperti biasa, dan langsung tertidur pulas, ah sial. Cuman mimpi ...
Well, lesson learned.
What past is past. Jangan pernah berharap apa yang udah berubah, bakal berubah jadi sama lagi. Mereka bukan langit, kan? Mungkin lebih baik, kamu berharap kamu bisa tegar jalanin semuanya. Time is a healer. Percaya. Mungkin gak sekarang. Nanti. Kapan kapan. Sabaar ... Tuhan tau apa yang terbaik untuk kamu.
So, move forward, forget, and no regret ;-)
Salam super !!!
Subscribe to:
Comments (Atom)